Oleh: Yoni Ardianto (dimuat di Harian Suara Merdeka, 23 Des 2008)
GERUMBUL Gendayakan, demikian orang menamakan daerah tersebut. Gerumbul itu terletak di wilayah RT 1 RW 3 Desa Pasinggangan Kecamatan Banyumas Kabupaten Banyumas. Ada yang menarik dari daerah itu yaitu usaha kreatif masyarakatnya memanfaatkan sungai yang melintasi di daerah tersebut.
Alkisah, beberapa tahun lalu, seorang petani sederhana bernama Pak Nasum memulai aktivitas mengumpulkan batu-batu sebesar kepalan telapak tangan dari sungai tersebut dan dibawanya ke rumahnya. Di sela-sela kesibukannya bertani, beliau memanfaatkan waktu yang tersisa untuk memecah batu-batu tersebut menjadi batu split dan batu koral.
Alat yang dipergunakannya pun sangat sederhana, yaitu hanya sebuah palu dengan ukuran yang agak besar, sekadar bisa untuk memecahkan batu-batu kali tersebut. Semuanya dilakukan secara manual dengan tenaga manusia.
Pada awalnya, masyarakat sekitarnya di gerumbul Gendayakan yang umumnya mata pencahariannya juga bertani, tidak menaruh perhatian pada usaha Pak Nasum tersebut, bahkan cenderung memandang sebelah mata. Batu split dan batu koral produksi Pak Nasum ternyata laku dijual kepada orang-orang yang hendak mendirikan bangunan. Dari situlah sikap para tetangganya berubah.
Mereka mulai meniru usaha yang dilakukan Pak Nasum. Sekarang ini apabila Anda mengunjungi daerah tersebut, akan menjumpai banyak tumpukan batu split dan koral di sepanjang jalan yang membelah gerumbul Gendayakan. Sebuah geliat ekonomi rakyat di sebuah kampung.
Dalam perkembangannya, tidak hanya usaha batu split dan batu koral yang ada di daerah ini, tetapi juga ada usaha batu bata dan pembenihan ikan lele. Usaha batu bata ini pun di mulai oleh masyarakat dengan memanfaatkan lahan pertanian yang kurang produktif. Apa yang dilakukan oleh masyarakat Banyumas tersebut, baik usaha batu split, batu koral, dan batu bata, tidak terlepas dari upaya membuat/memberikan nilai tambah (added value) pada sesuatu, yaitu batu dan tanah. Nilai ekonomisnya menjadi lebih tinggi.
Hampir setiap barang dapat dimodifikasi sehingga hasil akhirnya akan lebih bernilai dari produk asal. Sebagai contoh sederhana adalah beras. Dari produk awal berupa gabah yang bisa saja dijual apa adanya, namun manakala sudah diubah menjadi beras, nilainya akan lebih tinggi. Apalagi kalau dikemas secara menarik dan dijual di supermarket. Produk lanjutan dari beras ini sendiri pun bisa dijumpai seperti nasi yang disajikan di warung-warung hingga restoran, nilainya semakin tinggi.
Mungkin karena kondisi masyakatnya yang kreatif dengan segala usaha ekonominya, membuat Bupati Banyumas Drs H Mardjoko MM, pada waktu pencalonannya/kampanye, sempat berkunjung ke sana. Semoga beliau tidak lupa untuk segera merealisasikan janji-janjinya pada masyarakat pada saat itu.
Meniru
Fenomena yang dapat kita lihat dari usaha ekonomi masyarakat di Banyumas tersebut adalah meniru keberhasilan orang lain. Fenomena ini merupakan fenomena umum yang dapat terjadi di mana saja. Di mana ada suatu keberhasilan atau kesuksesan dalam berusaha maka pihak lain akan mengikuti atau menirunya.
Dalam strategi bisnis, meniru (imitate) adalah salah satu cara untuk ikut menikmati ceruk pasar yang ada. Meniru usaha yang sudah berhasil akan mengurangi risiko dibandingkan dengan memulai usaha yang benar-benar baru. Strategi meniru juga bukan tanpa risiko. Risiko tetap ada dalam setiap usaha (Theodore Levitt, 1966). Meniru saja tidak cukup. Pelaku usaha juga harus kreatif. Maksudnya, berikan sentuhan nilai tambah pada apa yang ditiru sehingga nilai ekonominya menjadi lebih tinggi.
Walaupun ada keuntungan dari strategi meniru atau “ikut-ikutan”, menjadi perintis usaha tetap lebih baik. Memang risiko yang dihadapi perintis usaha baru lebih besar dari orang lain yang meniru. Akan tetapi perintis usaha, apabila produknya diterima pasar, akan menikmati keuntungan lebih dulu dari pada para pesaing yang menirunya. Apalagi dari segi branding, perintis usaha akan mendapatkannya, artinya dia akan lebih dikenal oleh konsumennya.
Selalu berupaya untuk membuat inovasi/terobosan baru bagi para pelaku usaha adalah suatu keniscayaan untuk dapat bertahan dalam persaingan dengan para pesaingnya. Yang menjadi pertanyaan adalah bolehkah meniru? Jawabannya tergantung pada apa yang ditiru. Meniru tidak salah, selama yang ditiru tidak termasuk kategori pelanggaran hak cipta sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Hak Cipta Nomor 19 Tahun 2002, dan juga tidak termasuk dalam pelanggaran hak paten.
Hak Cipta menurut UU Nomor 19 Tahun 2002 adalah hak eksklusif bagi pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan. Termasuk dalam ciptaan yaitu hasil setiap karya pencipta yang menunjukkan keasliannya dalam lapangan ilmu pengetahuan, seni, atau sastra.
Sementara itu, yang dimaksud paten menurut UU Paten Nomor 14 Tahun 2001 adalah hak eksklusif yang diberikan oleh negara kepada inventor atas hasil invensinya di bidang teknologi, yang untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri invensinya tersebut atau memberikan persetujuannya kepada pihak lain untuk melaksanakannya.
Tetap Optimis
Beberapa analis memperkirakan krisis ekonomi akan berlanjut sampai 2009, bahkan mungkin lebih buruk. Sekarang ini saja ada rencana PHK di perusahaan global seperti General Motors (GM), Ford, dan Chrysler. Perusahaan multinasional seperti Toyota juga berencana menurunkan produksinya di tahun 2009 sebagai akibat perkiraan menurunnya daya beli konsumen mereka.
Ada atau tidaknya rencana PHK oleh perusahaan-perusahan di Indonesia, perlu kita sikapi dengan tetap bersiap-siap dengan kemungkinan terburuk. Dengan tetap bekerja sebaik mungkin di tempat kerja sekarang, ada baiknya mulai berpikir untuk memperoleh sumber penghasilan yang lain seperti berwirausaha. Memang berbisnis sendiri mempunyai risiko yang lebih besar dari pada bekerja kepada pihak lain. Namun kemungkinan mendapat penghasilan lebih besar pun tidak mustahil.
Bagi yang mempunyai waktu berlebih setelah bekerja, dapat juga mempertimbangkan untuk mencari penghasilan tambahan dengan bekerja di tempat lain. Bagaimanapun, mempunyai lebih dari satu sumber penghasilan akan memberikan rasa nyaman yang lebih, apalagi di tengah ketidakpastian ekonomi. Seperti yang dilakukan sebagian masyarakat gerumbul Gendayakan Banyumas yang memperoleh penghasilan dari bertani dan memproduksi batu koral/split dan batu bata tersebut.
Menabung juga merupakan strategi yang tepat untuk menghadapi situasi terburuk akibat tersendatnya penghasilan. Sisihkan sebagian penghasilan selagi masih bekerja untuk ditabung dan pergunakan apabila benar-benar membutuhkannya.
Yang terakhir adalah siap mental, hal ini sangat dibutuhkan untuk menghadapi saat-saat sulit. Yakinlah bahwa di setiap kesukaran pasti ada jalan keluar, ada kemudahan. Apabila mental tidak siap untuk menghadapi ujian kehidupan maka jiwa kita bisa terganggu, stres bahkan mungkin bisa sakit jiwa. Dan itu tentunya akan memperburuk keadaan. Tetaplah optimistis! (68)
GERUMBUL Gendayakan, demikian orang menamakan daerah tersebut. Gerumbul itu terletak di wilayah RT 1 RW 3 Desa Pasinggangan Kecamatan Banyumas Kabupaten Banyumas. Ada yang menarik dari daerah itu yaitu usaha kreatif masyarakatnya memanfaatkan sungai yang melintasi di daerah tersebut.
Alkisah, beberapa tahun lalu, seorang petani sederhana bernama Pak Nasum memulai aktivitas mengumpulkan batu-batu sebesar kepalan telapak tangan dari sungai tersebut dan dibawanya ke rumahnya. Di sela-sela kesibukannya bertani, beliau memanfaatkan waktu yang tersisa untuk memecah batu-batu tersebut menjadi batu split dan batu koral.
Alat yang dipergunakannya pun sangat sederhana, yaitu hanya sebuah palu dengan ukuran yang agak besar, sekadar bisa untuk memecahkan batu-batu kali tersebut. Semuanya dilakukan secara manual dengan tenaga manusia.
Pada awalnya, masyarakat sekitarnya di gerumbul Gendayakan yang umumnya mata pencahariannya juga bertani, tidak menaruh perhatian pada usaha Pak Nasum tersebut, bahkan cenderung memandang sebelah mata. Batu split dan batu koral produksi Pak Nasum ternyata laku dijual kepada orang-orang yang hendak mendirikan bangunan. Dari situlah sikap para tetangganya berubah.
Mereka mulai meniru usaha yang dilakukan Pak Nasum. Sekarang ini apabila Anda mengunjungi daerah tersebut, akan menjumpai banyak tumpukan batu split dan koral di sepanjang jalan yang membelah gerumbul Gendayakan. Sebuah geliat ekonomi rakyat di sebuah kampung.
Dalam perkembangannya, tidak hanya usaha batu split dan batu koral yang ada di daerah ini, tetapi juga ada usaha batu bata dan pembenihan ikan lele. Usaha batu bata ini pun di mulai oleh masyarakat dengan memanfaatkan lahan pertanian yang kurang produktif. Apa yang dilakukan oleh masyarakat Banyumas tersebut, baik usaha batu split, batu koral, dan batu bata, tidak terlepas dari upaya membuat/memberikan nilai tambah (added value) pada sesuatu, yaitu batu dan tanah. Nilai ekonomisnya menjadi lebih tinggi.
Hampir setiap barang dapat dimodifikasi sehingga hasil akhirnya akan lebih bernilai dari produk asal. Sebagai contoh sederhana adalah beras. Dari produk awal berupa gabah yang bisa saja dijual apa adanya, namun manakala sudah diubah menjadi beras, nilainya akan lebih tinggi. Apalagi kalau dikemas secara menarik dan dijual di supermarket. Produk lanjutan dari beras ini sendiri pun bisa dijumpai seperti nasi yang disajikan di warung-warung hingga restoran, nilainya semakin tinggi.
Mungkin karena kondisi masyakatnya yang kreatif dengan segala usaha ekonominya, membuat Bupati Banyumas Drs H Mardjoko MM, pada waktu pencalonannya/kampanye, sempat berkunjung ke sana. Semoga beliau tidak lupa untuk segera merealisasikan janji-janjinya pada masyarakat pada saat itu.
Meniru
Fenomena yang dapat kita lihat dari usaha ekonomi masyarakat di Banyumas tersebut adalah meniru keberhasilan orang lain. Fenomena ini merupakan fenomena umum yang dapat terjadi di mana saja. Di mana ada suatu keberhasilan atau kesuksesan dalam berusaha maka pihak lain akan mengikuti atau menirunya.
Dalam strategi bisnis, meniru (imitate) adalah salah satu cara untuk ikut menikmati ceruk pasar yang ada. Meniru usaha yang sudah berhasil akan mengurangi risiko dibandingkan dengan memulai usaha yang benar-benar baru. Strategi meniru juga bukan tanpa risiko. Risiko tetap ada dalam setiap usaha (Theodore Levitt, 1966). Meniru saja tidak cukup. Pelaku usaha juga harus kreatif. Maksudnya, berikan sentuhan nilai tambah pada apa yang ditiru sehingga nilai ekonominya menjadi lebih tinggi.
Walaupun ada keuntungan dari strategi meniru atau “ikut-ikutan”, menjadi perintis usaha tetap lebih baik. Memang risiko yang dihadapi perintis usaha baru lebih besar dari orang lain yang meniru. Akan tetapi perintis usaha, apabila produknya diterima pasar, akan menikmati keuntungan lebih dulu dari pada para pesaing yang menirunya. Apalagi dari segi branding, perintis usaha akan mendapatkannya, artinya dia akan lebih dikenal oleh konsumennya.
Selalu berupaya untuk membuat inovasi/terobosan baru bagi para pelaku usaha adalah suatu keniscayaan untuk dapat bertahan dalam persaingan dengan para pesaingnya. Yang menjadi pertanyaan adalah bolehkah meniru? Jawabannya tergantung pada apa yang ditiru. Meniru tidak salah, selama yang ditiru tidak termasuk kategori pelanggaran hak cipta sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Hak Cipta Nomor 19 Tahun 2002, dan juga tidak termasuk dalam pelanggaran hak paten.
Hak Cipta menurut UU Nomor 19 Tahun 2002 adalah hak eksklusif bagi pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan. Termasuk dalam ciptaan yaitu hasil setiap karya pencipta yang menunjukkan keasliannya dalam lapangan ilmu pengetahuan, seni, atau sastra.
Sementara itu, yang dimaksud paten menurut UU Paten Nomor 14 Tahun 2001 adalah hak eksklusif yang diberikan oleh negara kepada inventor atas hasil invensinya di bidang teknologi, yang untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri invensinya tersebut atau memberikan persetujuannya kepada pihak lain untuk melaksanakannya.
Tetap Optimis
Beberapa analis memperkirakan krisis ekonomi akan berlanjut sampai 2009, bahkan mungkin lebih buruk. Sekarang ini saja ada rencana PHK di perusahaan global seperti General Motors (GM), Ford, dan Chrysler. Perusahaan multinasional seperti Toyota juga berencana menurunkan produksinya di tahun 2009 sebagai akibat perkiraan menurunnya daya beli konsumen mereka.
Ada atau tidaknya rencana PHK oleh perusahaan-perusahan di Indonesia, perlu kita sikapi dengan tetap bersiap-siap dengan kemungkinan terburuk. Dengan tetap bekerja sebaik mungkin di tempat kerja sekarang, ada baiknya mulai berpikir untuk memperoleh sumber penghasilan yang lain seperti berwirausaha. Memang berbisnis sendiri mempunyai risiko yang lebih besar dari pada bekerja kepada pihak lain. Namun kemungkinan mendapat penghasilan lebih besar pun tidak mustahil.
Bagi yang mempunyai waktu berlebih setelah bekerja, dapat juga mempertimbangkan untuk mencari penghasilan tambahan dengan bekerja di tempat lain. Bagaimanapun, mempunyai lebih dari satu sumber penghasilan akan memberikan rasa nyaman yang lebih, apalagi di tengah ketidakpastian ekonomi. Seperti yang dilakukan sebagian masyarakat gerumbul Gendayakan Banyumas yang memperoleh penghasilan dari bertani dan memproduksi batu koral/split dan batu bata tersebut.
Menabung juga merupakan strategi yang tepat untuk menghadapi situasi terburuk akibat tersendatnya penghasilan. Sisihkan sebagian penghasilan selagi masih bekerja untuk ditabung dan pergunakan apabila benar-benar membutuhkannya.
Yang terakhir adalah siap mental, hal ini sangat dibutuhkan untuk menghadapi saat-saat sulit. Yakinlah bahwa di setiap kesukaran pasti ada jalan keluar, ada kemudahan. Apabila mental tidak siap untuk menghadapi ujian kehidupan maka jiwa kita bisa terganggu, stres bahkan mungkin bisa sakit jiwa. Dan itu tentunya akan memperburuk keadaan. Tetaplah optimistis! (68)

